Rabu, 18 Februari 2009

KOTA AYAT: “Memastikan” Satu Kavling di Surga



”Hah??! Emangnya bisa dipesan?”

Kebanyakan orang menumpuk harta dalam bentuk rumah mewah, tanah, dan deposito. Mereka lupa, kalau suatu ketika, semua yang dengan susah payah dikumpulkan dan dibanggakan itu, akhirnya hanya akan diwariskan atau malah jatuh ke tangan orang lain. Ketika kematian menjemput, semua ditinggalkan. Kesibukan membuat kebanyakan orang lupa untuk memesan tempat peristirahatan abadi: kavling di surga.

Sebuah hadits yang diriwayatkan Muslim menyebutkan, bahwa Rasulullah SAW bersabda, ”Orang yang memelihara anak yatim, maka aku (Nabi) dan dia seperti dua jari di syurga.” Isyarat ini begitu jelas. Pemelihara anak yatim mendapatkan tempat khusus bersama Nabi di surga. Nabi yang terlahir dalam kondisi yatim, merasakan pahit getir bagaimana dibesarkan tanpa kehadiran ayah dan ibu. Karena itu, siapapun ummatnya yang mau memelihara, menyantuni, dan mendidik anak yatim, Beliau menjaminnya menjadi sahabatnya di surga.

Berbekal dari pengertian inilah ide awal pendirian organisasi sosial KOTA AYAT (Kepedulian Orang Tua Asuh Untuk Anak yatim dan Terlantar) dimulai. ”Suatu ketika, seorang teman meminta saya mencarikan anak yatim di sekitar saya. Katanya, anak tersebut akan disantuni. Dengan senang hati saya carikan. Namun ternyata masing-masing anak tersebut hanya diberikan Rp 50 ribu untuk setahun,” kenang Ustadz Danu Kurnia prihatin.

Dengan jumlah itu, pikir Ketua KOTA AYAT ini, hanya akan menjadi kejutan menyenangkan sementara, tapi tidak akan mengubah nasib dari anak yatim itu seterusnya. Oleh karena itu, dalam berbagai kesempatan, pengusaha ayam goreng fried chicken dalam gerobak ini mencoba menularkan ide pemberdayaan anak yatim yang bersifat permanen. ”Syukur-syukur bisa mengantarkan dan membekali hidup mereka dengan kemampuan yang membuat mereka bisa hidup mandiri.”

Gagasan ini dimulai dengan mengedarkan kotak amal. Kotak-kotak tersebut ditempatkan di masing-masing warung, toko, pengusaha kecil, yang menjadi mitra kerja ataupun kenalannya. Mungkin sudah banyak yang menaruh kotak yang sama di pusat-pusat keramaian ataupun tempat-tempat bisnis. Namun, tegas dia, kotak yang ini berbeda. ”Dengan bersedia ditempatkan kotak, maka secara tidak langsung ia bersedia menjadi orang tua asuh. Jadi kotak ini tidak sekadar menitipkan. Karena pemilik warung/toko atau usaha punya kewajiban mengisinya,” terang alumnus pesantren Al Ittifaq, Baru Tunggul, Cibedey, Bandung.

Ia memberikan gambaran, banyak sekali pedagang mengeluarkan uang ’sia-sia’ yang tidak terasa setiap harinya. ”Dari pada buat ngasih pengamen, preman, atau ngrokok yang seharinya bisa ribuan, mendingan untuk anak yatim. Mereka senang, kita pun dapat berkahnya,” tandasnya.

Sambutan positif pun mengalir dari berbagai kalangan usahawan kecil. ”Anak yatim perlu terus diperhatikan keperluan hariannya dan pendidikannya supaya anak-anak yatim itu merasa terlindungi dan juga diperhatikan sehingga tidak putus harapan dan dapat hidup mandiri dimasa depan,” kata Ustadz Sumanto, pemilik warung mie ayam yang juga pengurus Masjid Jami’ Al Mujahidin, Kampung Baru, Kelapa Dua Wetan.

”Kalau bisa sampai penyediaan fasilitas asrama sehingga dapat dilakukan pembinaan sejak dini untuk menghasilkan SDM yang berkualitas ,” timpal H. Aliadin, pemilik warung sayur-mayur di wilayah yang sama.

Dukungan juga mengalir dari kalangan muda. ”Saya tergerak untuk bergabung dengan KOTA AYAT karena ini bentuk dari pada kesalihan sosial. Jadi bukan hanya ngerjain ibadah mahdhoh saja. Ini juga penting. Apalagi kalau nantinya kita tidak hanya memfasilitasi pendidikan, tapi juga bisa mengantarkan mereka menjadi entrepreneur (wiraswastawan),” kata Mas Teguh Priyanto, mahasiswa FMIPA UNJ, yang juga sekretaris KOTA AYAT.

Dari beberapa kali pertemuan informal dengan beberapa para pedagang, usahawan kecil, dan mitra bisnis lain, papar ustadz Danu Kurnia, kemudian disepakati untuk membentuk KOTA AYAT. Ada tiga program kerja utama: pendidikan, santunan, dan membuka lapangan kerja. ”Panti Asuhan biasanya menyediakan yang pertama dan kedua, tapi memikirkan sampai dapat pekerjaan, mungkin masih jarang,” paparnya. Dengan melihat para orang tua asuh dari kalangan usaha kecil, para pendiri KOTA AYAT, berharap setelah tamat SMP atau SMU anak-anak yatim ini bisa dimagangkan di tempat orang tua asuh, hingga mereka mendapatkan ketrampilan dan bisa dilepas sendiri.

Sampai pertengahan Desember, lanjut Ustadz Kurnia, baru tersebar kira-kira 65 kotak amal untuk Orang Tua Asuh. Ditargetkan, tahun 2009 bisa mencapai 1000 kotak. ”Kita berharap tahun depan bisa menyantuni pendidikan untuk 500 orang yatim dan terlantar,” ujarnya optimis.

Harapan mereka, bukan hanya senang melihat anak-anak yatim dan terlantar binaan kelak bisa mandiri. Tapi yang jelas, langkah ini semoga berbuah ridla Allah SWT sehingga ketika saatnya tiba berpamitan dari dunia fana: sebuah kapling surga telah dipesan untuk mereka.

Rabu, 31 Desember 2008

Anak Yatim dan Terlantar, Siapa Peduli?

Ketika Ramadhan tiba, sering kita dapati anak-anak yatim menghiasi layar kaca. Para artis, pengusaha, politikus, dan tak ketinggalan instansi pemerintah dan swasta seperti berlomba-lomba mengundang mereka untuk berbuka puasa. Biasanya diakhiri dengan pemberian santunan. Setelah itu, nasib mereka bak menghilang di telan bumi.
Begitulah yang acap terjadi. Anak yatim dan terlantar hanya menghiasi layar kaca ketika mereka ‘dibutuhkan’. Setelah itu, banyak dermawan yang seolah lupa.
Negara memang menjamin kehidupan mereka. Tak kurang UUD 1945 menyebutkan ”Fakir miskin dan anak-anak terlantar dipelihara oleh negara.” Kalau yang fakir saja dipelihara, apalagi yang yatim. Namun dengan kemampuan anggaran Pemerintah yang cekak , hidup anak yatim dan terlantar pasti semakin sulit.
Di sinilah pentingnya peran masyarakat untuk bukan hanya menyantuni sesaat, tapi lebih dari itu semangat untuk mengantarkan mereka ke pintu kemandirian. Sulit? Tentu iya. Nah, mungkin karena begitu sulitnya menyantuni mereka, jalan ke arah ini disebut ”mendaki lagi sukar”(lihat Box).
Namun, seperti kata pepatah, kalau ada kemauan, pasti ada jalan. Inilah yang dilakukan salah satu orang tua asuh (OTA) yang bergabung dengan KOTA AYAT. Ia menghentikan kebiasaan merokok. Uang yang biasa dibakar, ia sisihkan untuk anak yatim. Hasilnya, ternyata cukup besar. Ia bukan hanya tersadar selama ini telah memubazirkan dana jutaan rupiah hanya untuk asap rokok, tapi juga tersadarkan indahnya berbagi untuk anak yatim. Ah, kenapa sih nggak dari dulu-dulu! Tapi, lebih baik terlambat, dari pada tidak sama sekali bukan?

Rabu, 03 Desember 2008

PROFIL KOTA AYAT

Latar Belakang
Segala puji hanya milik Allah SWT, Tuhan semesta alam yang telah melimpahkan karunia-Nya yang tak terkira kepada setiap makhluk yang ada di alam semesta. Sholawat dan salam atas Nabi Muhammad SAW, keluarga, shahabat dan para pengikutnya yang setia hingga hari kiamat.
Begitu banyak ayat Al Quran dan Hadits Nabi Muhammad SAW yang menerangkan tentang kemulyaan yang diperoleh bagi orang yang senantiasa memperhatikan, merawat dan menjaga anak yatim-piatu semasa hidupnya. Begitu juga sebaliknya, ancaman yang Allah berikan bagi siapa saja yang menelantarkan anak yatim-piatu semasa hidupnya.
Oleh karena itu, kami berencana membuat sebuah wadah yang dapat menjadi tempat untuk berbagi dengan para anak yatim-piatu. Lembaga tersebut kami beri nama KOTA AYAT (Kepedulian Orangtua Asuh Anak Yatim dan Terlantar).

Pengertian
1. Anak Yatim adalah anak yang ditinggal ayah dan/atau ibu kandungnya karena telah meninggal dunia sehingga dalam perkembangannya tidak mendapatkan kasih sayang dari ayah dan/atau ibu kandungnya sendiri.
2. Anak Terlantar adalah anak yang masih mempunyai orangtua kandung namun dikarenakan keterbatasan, orangtuanya belum mampu mencukupi kebutuhan pokoknya, misalnya pangan, sandang dan pendidikan.

Maksud dan Tujuan
Mencari ridho Allah SWT
Menjalankan perintah Allah SWT sebagaimana yang tertera di dalam AlQuran dan As Sunnah.
menghindarkan diri dari azab karena menelantarkan dan tidak mempedulikan anak yatim.

Visi
Menjadi lembaga pengelola anak yatim dan anak terlantar yang amanah dan professional


Misi
  • Proaktif membantu meringankan beban hidup, biaya pendidikan dan pekerjaan anak yatim dan terlantar
  • Menumbuhkembangkan sikap dan prilaku masyarakat untuk peduli terhadap anak yatim dan terlantar
  • Sarana untuk membersihkan harta dari hak-hak orang lain.



Landasan
Al Quran dan Al Hadits



Motto
Learning – Sharing - Empowering
· Learning
Tekad KOTA AYAT untuk membangun generasi pembelajar yang tidak pernah lelah belajar dan mampu mengimplementasikan semua ilmunya demi kemaslahatan ummat manusia.
· Sharing
Tekad KOTA AYAT untuk senantiasa berbagi kebaikan kepada setiap makhluk di alam semesta, baik berupa ilmu pengetahuan, harta dan semangat agar hidup menjadi lebih hidup.
· Empowering
Tekad KOTA AYAT untuk senantiasa konsisten dalam komitmennya membangun masyarakat yang penuh dengan kedamaian dan rahmat

Program Pokok
Program kerja pokok yang akan dilaksanakan oleh antara lain:



Santunan Bulanan
Dalam kegitan ini Kota Ayat memberikan santunan rutin bulanan kepada anak yatim dan terlantar dengan tujuan untuk meringankan beban hidupnya dan membantu memenuhi kebutuhan-kebutuhan dasar dalam hidupnya.

Pendidikan
Program ini bertujuan untuk membekali anak asuh Kota Ayat dengan pendidikan terpadu sehingga dihasilkan individu yang paripurna. Bentuk program ini dapat berupa tugas belajar yang diberikan kepada anak asuh pada beberapa lembaga pendidikan yang sesuai dengan keahlian yang ingin didalami oleh anak asuh tersebut atau berupa pendirian dan pengelolaan lembaga pendidikan yang didirikan oleh Kota Ayat yang akan menyelenggarakan kegiatan pendidikan bagi para anak asuh.

Pembukaan Lapangan Kerja
Program ini digulirkan untuk memberikan bekalan khusus agar anak yatim dan terlantar yang berada dala pengasuhan Kota Ayat dapat hidup mandiri ketika sudah beranjak dewasa sehingga tidak lagi menjadi beban bagi masyarakat. Bahkan diharapkan mampu memberikan kontribusi bagi masyarakat.



Kepengurusan